Digital Port IPC Sebagai Fasilator Perdagangan Kelas Dunia
Oleh : Muhammad Azhari
Indonesia merupakan negara maritim yaitu negara yang daerah teritorial lautnya lebih luas daripada teritorial daratan, dimana berdasarkan sumber informasi dari Badan Informasi Geospasial (BIG) menyebutkan luas wilayah daratan Indonesia adalah 1.922.570 km² dan luas wilayah perairan 3.257.483 km² atau dapat dikatakan 2/3 wilayah Indonesia adalah perairan, ini menjadikan satu pulau dengan pulau lainnya terpisah dengan lautan luas. Seperti yang kita tahu, Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi yang sangat besar dalam kegiatan ekspor dan impor, terlebih karena letak geografis Indonesia yang strategis yaitu berada pada jalur perdagangan internasional. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan yang baik di sektor transportasi laut sehingga dapat memberi manfaat dalam meningkatkan pendapatan negara di bidang perekonomian. Dalam mengelola potensi Indonesia sebagai negara maritim perlu adanya sarana yang menunjang serta mendukung, sarana yang dimaksud adalah pelabuhan.
Di Indonesia pelabuhan merupakan sarana yang memiliki peran penting, jika dilihat dari sektor tranportasi laut pelabuhan menjadi gerbang perekonomian sekaligus berfungsi sebagai roda penggerak perekonomian nasional. Sehingga dengan adanya sarana pelabuhan diharapkan menjadi fasilitas yang dapat mendukung pertumbuhan industri dan perdagangan. Seperti kita ketahui pelabuhan yang ada di Indonesia operasionalnya dikelola oleh perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terbagi di setiap bagian wilayah Indonesia. Salah satu perusahaan besar BUMN yang hadir untuk mengelola kegiatan operasional dan layanan pelabuhan di Indonesia adalah PT Pelabuhan Indonesia II (Persero).
PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) yang selanjutnya disebut Indonesia Port Corporation (IPC) adalah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang jasa kepelabuhanan dengan visi “Menjadi fasilator perdagangan kelas dunia melalui ekosistem kepelabuhanan” serta menjungjung tinggi core value atau nilai perusahaan sebagai pedoman kerja yaitu Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif (AKHLAK) sehingga dapat menjadi pelabuhan yang memiliki daya saing tinggi.
IPC sebagai pelabuhan kelas dunia yang unggul dalam operasional dan pelayanan memiliki 12 cabang pelabuhan yang tersebar di Indonesia wilayah bagian Sumatera, Jawa dan Kalimantan sekaligus memiliki 17 group perusahaan yang terbagi dalam 3 kategori bisnis yaitu, bisnis inti, bisnis logistik & service serta bisnis pendukung. Selain kategori bisnis tersebut, IPC tetap berkomitmen agar dapat menyediakan layanan pelabuhan ke konsumen pengguna jasa yang berkualitas tinggi seperti layanan bongkar muat barang mulai dari kapal hingga sampai ke pemilik barang, layanan operasional kapal mulai dari kapal masuk sampai kapal keluar dari pelabuhan serta layanan penunjang kegiatan yang ada di kawasan pelabuhan tanpa melupakan aspek Keselamatan, dan Kesehatan Kerja (K3).
Berawal dari visi dan komitmen yang terus dipertahankan demi meningkatkan layanan konsumen, menjadikan transofmasi IPC sejak 4 tahun lalu menjadi pelabuhan yang menerapkan konsep digital port sekaligus juga memiliki rencana menjadikan semua pelabuhan dibawah pengelolaan IPC menjadi digital port dalam menjalankan bisnis yang bergerak di bidang kepelabuhanan. Sebagai digital port, IPC didukung oleh infrastruktur jaringan dengan membangun konsep Integrated Port Network (IPN) di lingkup kerja IPC atau dapat juga diartikan sebagai konsep jaringan pelabuhan yang sudah diintegrasikan. Digital port pada dasarnya merupakan layanan pelabuhan yang terintegrasi dan terkoneksi secara digital. Dimana dengan digitalisasi port, IPC sebagai penyedia jasa diharapkan dapat membantu layanan ke konsumen pengguna jasa menjadi lebih efektif dan juga efisien dalam proses kegiatan operasional pelabuhan ditengah tingginya perdagangan antar negara.
Sejak IPC menerapkan konsep digitalisasi port dalam menyediakan jasa untuk kegiatan operasional serta layanan konsumen pengguna jasa di beberapa tahun sebelumnya, IPC dinilai telah mengambil langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas layanan di bidang kepelabuhanan. Langkah ini yang selanjutnya menjadikan IPC sebagai fasilator perdagangan kelas dunia melalui ekosistem kepelabuhanan. Transformasi IPC dengan digitalisasi port sebagai fasilator perdagangan tidak hanya menurunkan biaya logistik tetapi dapat menghadirkan ekosistem kepelabuhanan yang memiliki daya saing tinggi.
Penerapan digitalisasi port terdapat di beberapa layanan IPC untuk konsumen seperti layanan informasi secara elektronik dan berbasis internet yang disebut inaport. Layanan inaport ini terdiri dari ecare, ebilling, epayment, eregistration, etracking, ebooking. Pada layanan kapal IPC juga mengahadirkan sistem untuk monitoring lalu lintas laut yang disebut Vessel Traffic System (VTS) dan juga Marine Operating System (MOS) yaitu layanan kapal pandu atau kapal tunda sehingga kegiatan operasional dapat lebih efisien dan efektif. Untuk layanan bongkar muat di terminal petikemas, IPC hadirkan aplikasi system remote tally yaitu sistem yang dapat melakukan capture gambar dan video dari petikemas melalui kamera di lima titik Quay Crane (QC) dan juga menghadirkan aplikasi eservice, system auto gate dimana interkoneksi antara aplikasi dengan sistem operasi terminal dilakukan melalui Enterprise Service Bus (ESB). Untuk layanan rupa-rupa IPC menghadirkan system gate pass dengan akses masuk ke pelabuhan menggunakan emoney untuk pengguna jasa IPC dan menggunakan ID card untuk karyawan IPC, serta hadirnya fasilitas smart parking di lingkungan kerja IPC Cabang Tanjung Priok.
Transformasi IPC menjadi digitalisasi port yang unggul dalam layanan adalah langkah awal untuk menggapai pencapaian lebih tinggi serta dapat bersaing dengan pelabuhan lain di belahan dunia. Sebagai fasilator perdagangan kelas dunia melalui ekosistem kepelabuhanan, IPC terus melakukan inovasi dari ide dan gagasan yang diberikan oleh sumber daya manusia terbaik IPC untuk terus meningkatkan layanan ke konsumen pengguna jasa, dengan harapan inovasi yang diciptakan dapat menekan biaya dan proses pelayanan pelabuhan menjadi murah dan lebih cepat. Sehingga daya saing distributor perdagangan serta industri yang mengirim hasil produksi menggunakan layanan pelabuhan akan meningkat. Selain itu harga barang akan menjadi murah karena biaya distribusi turun dan proses distribusi yang lebih cepat sampai ketujuan.
Ditengah kondisi penyebaran virus Covid-19 yang sedang melanda saat ini hampir semua sektor usaha di berbagai belahan dunia terkena dampaknya. Hingga saat ini pemerintah terus berupaya untuk keluar dari masa pandemi Covid-19, salah satunya melalui perusahaan BUMN pada sektor transportasi laut. Seperti diketahui pelabuhan terminal petikemas yang berada dibawah pengelolaan IPC tetap memberi pelayanan ke pengguna jasa serta melakukan kegiatan ekspor impor ditengah kondisi pandemi yang diharapkan dapat menjaga hasil produksi tiap wilayah tetap di distribusikan ke berbagai wilayah guna menjaga roda perekonomian untuk terus berputar. IPC sebagai pelabuhan kelas dunia yang sebelumnya telah menerapkan konsep digital port seperti yang dijelaskan sebelumnya, ternyata memberikan manfaat ditengah kondisi pandemi Covid-19, dimana dengan konsep digital port layanan pelabuhan tetap dapat di jalankan sekaligus mengikuti instruksi langsung dari pemerintah untuk mengurangi interaksi antar manusia agar terhindar dari penyebaran virus Covid-19.
Oleh karena itu perkembangan teknologi digital memang sangat diperlukan terlebih kondisi sekarang dimana interaksi antar manusia harus dikurangi hingga waktu yang tidak diketahui. Sebagai contoh pemanfaatan dari perkembangan teknologi 5G yang telah dilakukan uji coba pada pelabuhan Hamburg di Jerman sehingga meningkatkan proses pengiriman data lebih cepat, selain itu manfaat yang diperoleh dari 5G dapat diterapkan pada sistem artificial intelligence atau kecerdasan buatan. Dengan teknologi digital yang berkembang pesat hingga saat ini diharapkan IPC mampu bersaing dalam mengembangan teknologi digital di bidang kepelabuhanan, dimana penulis memiliki harapan IPC dapat menerapkan teknologi Internet of Things (IoT) dan Internet of Vehicles (IoV) pada semua layanan pelabuhan yang dikelola IPC, sehingga dapat terus meraih prestasi dengan meningkatkan kegiatan operasional serta layanan.
Penulis berharap IPC dapat terus mewujudkan inovasi melalui ide dan gagasan sehingga menjadi pelabuhan yang memiliki daya saing tinggi serta menjadi fasilator perdagangan kelas dunia dengan ekosistem kepelabuhanan baik Indonesia, Asia bahkan di dunia. Impian IPC dapat diwujudkan dengan selalu mendapat dukungan dari pemerintah Indonesia.
Comments
Post a Comment